Petani Sawit OKI Manfaatkan 778 Hektare Lahan PSR untuk Budi Daya Padi Gogo

oleh -468 Dilihat
oleh
Acara tanam perdana padi gogo pada lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 300 hektare untuk Koperasi Unit Desa (KUD) Wilayah III, IV, dan V, digelar di Desa Kerta Mukti, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis (17/12/2025). Kegiatan yang dihadiri berbagai pihak terkait ini menjadi bukti nyata sinergi antara sektor perkebunan dan pangan untuk mendukung swasembada pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani sawit./Lisin, News Oke Gas
400x100
Spread the love
News Oke Gas (OKI) – Sebanyak 778 hektare lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kini dioptimalkan untuk budi daya padi gogo sebagai sumber pangan alternatif.

Inisiatif kolaboratif antara 12 Koperasi Unit Desa (KUD) dan PT Sampoerna Agro diresmikan melalui tanam perdana di Kebun KUD Bina Sejahtera, Desa Kerta Mukti, Kecamatan Mesuji Raya, pada Kamis (17/12/2025).

banner 336x280

Kegiatan yang dihadiri langsung Bupati OKI H. Muchendi menunjukkan bahwa program PSR tidak hanya fokus pada regenerasi tanaman kelapa sawit, melainkan juga memberikan manfaat ekonomi dan pangan yang nyata bagi petani melalui pola tumpang sari produktif.

Pada acara tanam perdana padi gogo di lahan PSR Desa Kerta Mukti, Kecamatan Mesuji Raya, OKI, Kamis (17/12/2025), pihak terkait melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kondisi kebun sawit dan persiapan lahan bagi program intercropping. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya optimalisasi lahan guna meningkatkan produksi pangan sekaligus mendukung keberlanjutan usaha perkebunan rakyat./Lisin, News Oke Gas

“Penanaman padi gogo hari ini membuktikan sinergi yang kuat antara sektor perkebunan dan pangan. Sistem intercropping kami terapkan menjadi solusi strategis untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendukung target nasional peningkatan produksi pangan,” jelas Muchendi.

Perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Doris Monica, menjelaskan bahwa tumpang sari padi gogo dapat diterapkan pada tanaman perkebunan berusia di bawah dua tahun, termasuk kelapa sawit.

Pada Kamis (17/12/2025), tim bersama pihak terkait melakukan tinjauan langsung kebun sawit rakyat di Desa Kerta Mukti, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten OKI, dalam rangka program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang mengintegrasikan budi daya padi gogo. Kunjungan ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi lahan dan memastikan pelaksanaan program intercropping berjalan optimal demi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani./Lisin, News Oke Gas

“Ini merupakan langkah konkret dalam optimasi lahan untuk memperluas areal tanam padi, khususnya di wilayah OKI yang memiliki potensi besar dalam sektor perkebunan,” ujar Doris.

Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong perluasan areal perkebunan tebu sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada gula nasional, sesuai arahan Menteri Pertanian.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Muchendi menyerahkan hasil penilaian fisik kebun sawit rakyat untuk pendanaan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Sebanyak 9.168 hektare lahan di Kecamatan Mesuji Raya, Mesuji, dan Lempuing Jaya dinyatakan memenuhi syarat teknis untuk menerima dukungan program PSR.

Kepala Dinas Perkebunan OKI, Dedy Kurniawan, mengungkapkan bahwa penilaian fisik dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan tanaman, pertumbuhan, dan produktivitas.

“Hasil penilaian menjadi dasar krusial agar pendanaan dari BPDPKS dialokasikan secara efektif dan tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan,” jelas Dedy.

Selain pengembangan padi gogo, KUD Bina Sejahtera juga memperkenalkan praktik terbaik pengelolaan kebun melalui penggunaan pupuk organik yang diproduksi secara mandiri.

Ketua KUD Bina Sejahtera H. Azhar (pensiunan Penyuluh Pertanian Lapangan) menjelaskan bahwa pupuk tersebut dibuat dari limbah sawit (tandan kosong, limbah padat dan cair pabrik) serta kotoran ternak yang difermentasi selama tujuh hari menggunakan bahan aktif QRR dan dolomit.

“Penggunaan pupuk organik mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen, meningkatkan ukuran tandan buah segar (TBS), dan mempercepat masa panen. Unit pengolahan pupuk bahkan telah berkembang menjadi usaha mandiri yang membuka lapangan kerja baru,” ungkap Azhar.

Ia menambahkan, masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi dari program ini, dengan pembelian kotoran ternak seharga Rp10.000 per karung, serta pemanfaatan air leri sebagai bahan pupuk cair.

Azhar berharap pemerintah dapat memberikan dukungan dalam pengurusan izin produksi agar pupuk organik tersebut dapat diperluas ke petani sawit di wilayah lain.

Dengan langkah-langkah ini, petani sawit OKI tidak hanya menjaga kelangsungan usaha perkebunan mereka, tetapi juga berkontribusi aktif pada pencapaian swasembada pangan dan ketahanan ekonomi lokal – bukti konkret bahwa optimasi lahan dapat memberikan manfaat ganda bagi kemajuan daerah dan negara. (*/Lisin)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.